Kamis, 21 April 2011

Pendekatan, Metode dan tehnik Bimbingan Konseling


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Pengertian Pendekatan, Metode dan Tehnik Bimbingan dan Konseling.
Kata Pendekatan terdiri dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau perbuatan mendekati atau mendekatkan[1]. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya.
Metode dalam pengertian harfiyah, adalah "jalan yang harus dilalui" untuk mencapai suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Namun pengertian hakiki dari metode tersebut adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga, administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung, bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan pandangan pelaksana metode, lingkungan yang menunjang suksesnya bimbingan dan cara-cara pendekatan dan pemahaman terhadap sasaran metode seperti wawancara, angket, tes psikologis, sosiometri dan lain sebagainya[2].
Sedangkan tehnik adalah suatu cara (kepandaian, pengetahuan dll) untuk membuat atau melakukan sesuatu[3]. Jadi Tehnik Bimbingan dan Konseling adalah Suatu cara yang harus digunakan oleh seorang konselor dalam melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Konseling.

BAB II
PENDEKATAN, METODE DAN TEHNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

A.  Pendekatan Bimbingan dan Konseling.
Dalam melaksanakan kegiatan BK ada beberapa pendekatan, antara lain :
1.     Pendekatan Non-Direktif
2.     Pendekatan Rasional-Emotif
3.     Pendekatan Analisis Transaksional
4.     Pendekatan Klinikal
A.1.  Pendekatan Non Direktif
A.1.1.  Hubungan Non Direktif
Pak Nyoman adalah konselor salah satu SMU melihat seorang murid pria sedang duduk-duduk dengan santai di tempat parkir sekolah, sedangkan teman lainnya sudah berangkat untuk mengikuti apel bendera. Pak Nyoman menghampiri murid tersebut dan terjadilah dialog sebagai berikut "
Konselor        : "Tidak ikut upacara bendera nak?"
Klien              : "Tidak Pak, kepala lagi pusing Pak."
Konselor        : "Sudah minum obat?"
Klien              : "Malas Pak."
Konselor        : "Kenapa malas?"
Klien              : "Biarlah Pak, supaya saya cepat mati."
Konselor        : "Apa maksudmu? Kalau kamu sakit, mari Bapak antar ke rumah sakit.
Klien              : "Tidak usah Pak."
Konselor        : "Apakah kamu bertengkar dengan orang tuamu?"
Klien              : "Bagaimana tidak bertengkar, baru pulang kemalaman saja, sudah diomelin. Bargaul dengan A salah, B juga salah. Begini salah, begitu juga salah, semua serba salah Pak."
Konselor        : "Tampaknya dalam rumah tangga ada ketidakcocokan?"
Klien              : "Betul Pak, bukan saja tidak cocok, orang-orang di rumah semuanya cengang dan bawel, orang tua seperti tentara saja, serba perintah dan larangan. Walaupun perintah itu dilaksanakan toh tidak ada benarnya!"
Konselor        : "Jadi semalam kamu tidak bisa tidur dengan nyenyak?"
Klien              : "Betul Pak! Semalam saya tidak bisa tidur sampai subuh, selalu terbayang omelan-omelan ayah dan ibu, tubuh rasanya lemas dan tidak ada selera belajar!"
Demikianlah dialog antara PakNyoman dengan kliennya berlangsung terus, dan konselor sekolah berusaha untuk mendorong klien mengungkapkan segala kekesalannya, kekecewaannya dan perasaan-perasaan tidak tenangnya. Secara perlahan-lahan konselor juga mendorong klien untuk mencurahkan perasaan positifnya serta mengadakan penilaian terhadap pola berpikirnya dari pola pikir orang lain, serta menilai perbuatannya dari perbuatan orang lain. Dialog diakhiri dengan tumbuhnya keinginan klien untuk membicarakan masalahnya dengan kedua orang truanya. Dari dialog di atas dapat dilukiskan sebagai suatu gambaran situasi hubungan yang bersifat Non-Direktif[4].
A.1.2.  Tujuan Pendekatan Non-Direktif
a.     Membebaskan klien dari berbagai konflik psikologis yang dihadapinya.
b.    Menumbuhkan kepercayaan pada diri klien, bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan terbaik bagi dirinya tanpa merugikan orang lain.
c.     Memberikan kesempatan kepada klien untuk mempercayai orang lain dan siap menerima pengalaman orang lain yang bermanfaat baginya.
d.    Memberikan kesadaran kepada klien bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu lingkungan social budaya yang luas tetapi ia masih tetap memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri.
e.     Menumbuhkan keyakinan pada klien bahwa dirinya terus tumbuh dan berkembang (process of becoming)[5].
A.1.3.  Kebaikan-kebaikan Pendekatan Non-Direktif.
Penggunaan pendekatan ini akan banyak membantu apabila :
a.     Klien mengalami kesukaran emosional dan tidak dapat menganalisis secara raional dan logis.
b.    Konselor memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk menangkap penghayatan emosi dalam mengungkapkan masalah dari klien dan memantulkan kembali kepada klien dalam bahasa dan tindakan yang sesuai.
c.     Pendekatan ini sangat baik digunakan jika klien memiliki kemampuan untuk merefleksikan diri dan mengungkapkan perasaan-perasaan serta pikiran-pikirannya secara verbal.
d.    Pendekatan ini cocok digunakan sebab masalah yang dihadapi klien tetap menjadi tanggung jawab klien sendiri, walaupun konselor memberikan bantuan-bantuan berupa pertanyaan penggali, ajakan menekankan supaya klien memusatkan perhatian pada refleksi ini.
A.1.4.  Kelemahan Pendekatan Non-Direktif
1.     Cara pendekatan ini menyita banyak waktu bila wawancara konseling tidak terarah.
2.     Kemampuan dan keberanian klien untuk mengungkapkan secara verbal seluruh permasalahannya sangat terbatas.
3.     Kesukaran-kesukaran klien dalam menerima dan memahami diri sendiri.
4.     Pendekatan ini menuntut sifat dan sikap kedewasaan dari klien.
5.     Kesukaran-kesukaran konselor dalam aspek klinis sering merupakan masalah, karena konselor belum terlatih dalam masalah psikologis[6].
A.2.  Pendekatan Rasional-Emotif
Teori Konseling Rasional Emotif dengan istilah lain dikenal dengan "rasional-emotif therapy" yang dikembangkan oleh Dr. Albert Ellis, seorang ahli Clinikal Psychology (Psikologi klinis).
Tujuan dari RET Albert Ellis pada intinya ialah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya. Konselor berusaha agar klien makin menyadari pikiran dan kata-katanya sendiri, serta mengadakan pendekatan yang tegas, melatih klien untuk bisa berpikir dan berbuat yang lebih realistis dan rasional.
Penerapan pendekatan ini sangat ideal apabila diterapkan di sekolah, terutama oleh guru, konselor, atau guru pembimbing yang berwibawa. Guru pembimbing yang berwibawa akan mampu membantu siswa yang mengalami gangguan mental untuk mengarahkan secara langsungpada para siswa yang memiliki pola berpikir yang tidak rasional, serta mempengaruhi cara berpikir mereka yang tidak rasional untuk meninggalkan anggapan yang keliru itu menjadi rasional dan logis.
Guru melalui mata pelajaran yang diajarkan kepada siswanya secara langsung bias mengaitkan pola bimbingan yang terpadu untuk mempengaruhi para siswanyauntuk segera meninggalkan tindakan, pikiran, dan perasaan yang tidak rasional[7].
A.3.  Pendekatan Analisis Transaksional
Prinsip-prinsip yang dikembangkan melalui analisis transaksional diperkenalkan pertama kali pada tahun 1956 oleh Eric Berne, dan kemudian disusul dengan pembahasan yang mendalam di depan Regional Meeting of The American Group Psychotherapy Association di Los Angeles, buolan November 1957, yang berjudul: "Transactional Analysis: A New and EffectiveMethod Group Therapy".
Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.
A.3.1.  Tujuan Analisis Transaksional :
1.     Tujuan pertama, konselor membantu klien yang mengalami kontaminasi (pencemaran) status ego yang berlebihan.
2.     Konselor berusaha membantu mengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok.
3.     Konselor berusaha membantu klien di dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya. Pengembangan ini pada hakikatnya adalah menetapkan pikiran dan penalaran individu.
4.     Tujuan terakhir dari konseling adalah membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru yang lebih produktif[8].
A.4.  Pendekatan Klinikal
Konseling Klinikal berkembang diawali dari konsep konseling jabatan (vocational counseling), yang menitikberatkan pada kesesuaian pendidikan dengan jabatan(vocational). Konseling jabatan pertama-tama dirintis dan diperkenalkan oleh Frank Parson (1909) yang menekankan kepada tiga aspek penting, yaitu : (1) pemahaman yang jelas tentang potensi-potensi yang dimiliki individu termasuk di dalamnya ialah tentang bakat, minat, kecakapan, kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahannya. (2) pengetahuan tentang syarat, kondisi, kesempatan dan tentang prospek dari berbagai jenis pekerjaan atau kerir, (3) penyesuaian yang tepat antara kedua aspek tersebut.
Istilah klinikal, apakah dalam arti diagnosis klinikal maupun konseling klinikal adalah merupakan kerangka acuan kerja, yang mendasarkan pada konsep bahwa konselor bukanlah semata-mata piñata dan pelaksana tes, tetapi dia juga bekerja menghadapi individu sebagai pribadi seutuhnya. Jadi, ini berarti bahwa konseling klinikal didasari pada pandangan tertentu tentang hakiukat manusia[9].
A.4.1.  Tujuan Konseling Klinikal
1.     Klien yang perlu mendapat bantuan adalah siswa yang menghadapi masalah yang tidak dapat memcahkan masalahnya sendiri. Untuk dapat membantu siswa dalam memecahkan masalahnya, konselor harus memahami dengan seksama seluk beluk dan liku-liku masalah yang dihadapi oleh siswa sebagai suatu dasar bagi konselor dalam menentukan tehnik atau pendekatan yang tepat. Jadi peranan langkah diagnosis di sini memegang peranan penting.
2.     Karena pada dasarnya konseling klinikal merupakan suatu proses personalisasi dan individualisasi, maka tujuan dari konseling adalah untuk membantu siswa mempelajari, memahami, dan menghayati dirinya sendiri serta lingkungannya, serta melancarkan terjadinya proses pengembangan diri, pemahaman diri, perwujudan cita-cita dan penemuan identitas diri.
Tujuan lain dari pendekatan konseling klinikal adalah agar individu mampu belajar melihat dirinya sendiri sebagaimana adanya dan mampu untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya secara optimal. Untuk mencapai tujuan ini, pola hubungan yang penuh dengan keakraban, bersahabat, perhatian, dan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain perlu ditanamkan dalam proses hubungan konseling[10].
A.4.2.  Langkah-langkah Pendekatan Klinikal
1.     Langkah Diagnosis I yaitu konselor berusaha mengumpulkan dari berbagai sumber dan dari berbagai pihak yang diduga ada relevansinya dengan masalah yang dihadapi siswa.
2.     Langkah Sintesis ialah suatu langkah untuk membuat suatu rangkuman data diatas, sehingga tampak jelas hal-hal unik yang berhubungan dengan masalah siswa.
3.     Langkah Diagnosis II yaitu kegiatan untuk menyusun gambaran kondisi siswa. Dengan tersusunnya gambaran kondisi sehingga tampak dengan jelas masalah apa yang sedang dialami siswa dan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut.
4.     Langkah Prognosis adalah suatu usaha untuk memilih alternatif tindakan yang dapat membantu siswa dalam mengatasi sendiri masalahnya.
5.     Langkah Treatment atau penyembuhan adalah pelaksanaan pemberian bantuan kepada siswa.
6.     Langkah Follow Up (lanjutan) ialah membantu siswa melaksanakan rerncana tindakan langkah awal sampai terakhir sedangkan klien itu sendiri kelihatan aktif pada waktu terjadi hubungan wawancara konseling saja[11].
B.   Metode Bimbingan dan Konseling
Ada beberapa metode yang lazim dipakai dalam bimbingan dan konseling, antara lain :
1.     Wawancara, adalah salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan anak bimbing pada saat tertentu yang memerlukan bantuan.
2.     Segala fakta yang diperoleh dari anak bimbing dicatat secara teratur dan rapi di dalam buku catatan (cumulative records) untuk anak bimbing yang bersangkutan serta disimpan baik-baik sebagai dokumen penting. Pada saat dibutuhkan, catatan pribadi tersebut dianalisis dan diidentifikasi untuk bahan pertimbangan tentang metode apakah yang lebih tepat bagi bantuan yang harus diberikan kepadanya.
3.     Metode Group-Guidance (Bimbingan Kelompok), yaitu cara pengungkapan jiwa/batin serta pembinaannya melalui kegiatan kelompok, seperti ceramah, diskusi, seminar, symposium atau dinamika kelompok dan sebagainya. Metode ini menghendaki agar setiap anak bimbing melakukan komunikasi timbal balik dengan teman-temannya, melakukan hubungan interpersonal satu sama lain dan bergaul melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan pembinaan pribadi  masing-masing.
4.     Metode Non-Direktif (cara yang tidak mengarahkan), metode ini dibagi 2 yaitu :
a)     Client-centered, yaitu cara pengungkapan batin yang dirasakan menjadi penghambat anak bimbing dalam belajar dengan system pancingan yang berupa satu-dua pertanyaan yang terarah. Selanjutnya klien diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menceritakan segala peristiwa yang menekan batin yang disadari menjadi hambatan jiwanya. Pembimbing bersikap memperhatikan dan mendengarkan serta mencatat point-point penting yang dianggap rawan untuk diberi bantuan.
b)    Metode Direktif yaitu pengungkapan tekanan perasaan yang menghambat perkembangan dengan mengkorek sampai tuntas sumber hambatan dan ketegangan dengan cara client centered, yang diperdalam dengan permintaan/pertanyaan yang motivatif dan persuasive (meyakinkan) untuk mengingat-ingat, serta didorong untuk berani mengungkap perasaan tertekan sampai ke akar-akarnya.
5.     Metode Psikoanalitis (penganalisaan psikis)
Metode ini berasal dari teori psiko-analisa Freud yang dipergunakan untuk mengungkapkan segala tekanan perasaan, terutama perasaan yang tidak disadari. Menurut teori ini manusia yang senantiasa mengalami kegagalan usaha dalam mengejar cita-cita atau keinginan, menyebabkan timbulnya perasaan tertekan yang makin lama makin membengkak. Bilamana tumpukan perasaan gagal tersebut  tidak dapat diselesaikan, maka akan mengendap ke dalam lapisan bawah sadarnya. Pada saat tertentu perasaan tertekan ini dapat muncul kembali ke permukaan dalam berbagai bentuk, antara lain berupa mimipi-mimpi yang menyenangkan atau mengerikan, atau tingkah laku yang serba salah yang tidak disengaja/disadari, misalnya salah ucap, salah mengambil benda, salah tulis dan sebagainya.
Untuk memperoleh data-data tentang jiwa tertekan bagi penyembuhan klien tersebut, diperlukan metode psikoanalitis yang menganalisa gejala tingkah laku baik melalui mimpi atau tingkah laku yang serba salah tersebut dengan menitikberatkan pada perhatian berulang-ulang.
6.     Metode Direktif, bersifat mengarahkan kepada anak bimbing untuk berusaha mengatasi kesulitan yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada anak bimbing ialah dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sumber kesulitan yang dihadapi anak bimbing.
7.     Metode Sosiometri, yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mengetahui kedudukan anak bimbing dalam berhubungan kelompok. Sosiometri merupakan tehnik penggambaran struktur hubungan yang ada di dalam bentuk sosiogram. Sosiogram adalah hasil pengukuran atau tes terhadap sekelompok anak-anak yang dilakukan menurut tehnik sosiometris yang digambarkan dalam bentuk diagram.
Kegunaan sosiometri bagi konselor yang paling penting ialah bahwa dengan sosiometri tersebut dapat diidentifikasikan mana anak yang sangat memerlukan bantuan dalam penyesuaiannya terhadap kelompok. Sosiometri ini akan dapat memberikan ramalan tentang sosialisasi yang akan berkembang di luar sekolah atau masyarakat di masa dewasa juga kepemimpinan siswa nanti dalam masyarakat dapat diramalkan[12].
C.  Tehnik Bimbingan dan Konseling
Pada dasarnya tehnik-tehnik pengenalan dan pemahaman individu dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :
1.     Tehnik Non Testing
2.     Tehnik Testing[13]
C.1. Tehnik Non Testing
Tehnik Non Testing adalah tehnik-tehnik pengumpulan data dengan menggunakan alat yang bukan test. Tehnik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang tidak dapat dikumpulkan dengan tehnik testing. Penggunaan tehnik ini perlu diutamakan karena alat-alat tersebut dapat diusahakan sendiri oleh konselor atau petugas bimbingan di sekolah.
Tehnik non testing ada bermacam-macam jenisnya, antara lain :
a)     Tehnik wawancara, adalah suatu proses pembicaraan dalam suatu situasi komunikasi langsung (face to face relationship) antara pewawancara dan yang diwawancarai dalam hal mana kedua belah pihak saling memberikan dan atau menerima informasi tentang persoalan-persoalan yang dibicarakan. Sedangkan dalam bidang bimbingan dan konseling , wawancara dapat mempunyai berbagai tujuan, seperti (a) pengumpulan data, (b) menciptakan hubungan baik, (c) memberi pertolongan[14].
b)    Tehnik Observasi, adalah tehnik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja dengan menggunakan alat indera (terutama mata) dan pencatatan terhadap gejala perilaku yang diselidiki. Alat indera merupakan alat utama dalam observasi, oleh karena itu agar observasi dapat berhasil maka dituntut kemampuan menggunakan alat indera dengan sebaik-baiknya. Kesengajaan itu bersangkutan dengan tanggung jawab ilmiah bagi yang melakukan observasi, sedangkan sistematis merupakan cirri kerja ilmiah. Gejala-gejala perilaku individu perlu diselidiki bilamana kita ingin memahami kondisi kepribadian seseorang individu. Oleh karena itu tehnik observasi sangat tepat untuk memahami perilaku individu[15].
c)     Tehnik Kuesioner adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang ingin diselidiki atau responden. Dengan mempergunakan kuesioner akan dapat diperoleh fakta-fakta atau opin-opini. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner sangat tergantung pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap bentuk dari pertanyaan yang ada dalam kuesioner itu. Kuesioner berfungsi sebagai tehnik pengumpul data dan juga sebagai alat pengumpul data[16].
d)    Tehnik Dokumentasi, yaitu tehnik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dengan usaha mempelajari dan membuktikan laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran yang bertalian dengan keperluan yang dibutuhkan. Dokumen tersebut dapat diambil dari buku pribadi, buku rapor dandaftar presensi[17].
e)     Pemeriksaan fisik dan kesehatan, yang dapat dilakukan secara periodic, misalnya satu bulan atau satu semester sekali.dapat juga dalikukan secara insidentil (sewaktu-waktu) sesuai kebutuhan atau masalah yang dihadapi. Data tentang pertumbuhan jasmani atau kesehatan dapat dipergunakan sebagai pedoman guru atau konselor di dalam membantu murid[18].
f)        Tehnik Biografi, yaitu tehnik pengumpulan data dengan menggunakan bahan-bahan yang berwujud tulisan mengenai kehidupan subjek yang diselidiki , baik yang ditulis sendiri maupun oleh orang lain. Bahan-bahan biografis yang banyak dipergunakan dalam pengumpulan data adalah : biografi, autobiografi, buku harian, kenangan masa muda dan case history[19].
g)    Tehnik home visit (kunjungan rumah), adalah suatu tehnik bimbingan dimana konselor atau guru mengadakan kunjungan ke rumah orang tua murid dengan tujuan untuk lebih mengenal dan memahami lingkungan hidup murid dalam keluarga dan keterangan-keterangan lain tentang murid[20].
h)     Tehnik Sosiometri dikemukakan oleh Moreno yang bertujuan untuk meneliti saling hubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok. Dengan kata lain sosiometri banyak digunakan untuk mengumpulkan data tentang dinamika kelompok. Dengan sosiometri maka akan dapat diketahui kesukaran seseorang dalam kelompoknya, baik dalam pekerjaan, belajar di sekolah maupun teman-teman bermain, menyelidiki ketidaksukaan terhadap teman kelompoknya[21].
i)         Tehnik Case Study adalah suatu tehnik untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seseorang secara mendalam, dengan tujuan membantu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik. Studi kasus bersifat integrative artinya dalam mengumpulkan data menggunakan berbagai macam pendekatan misalnya wawancara, observasi dan lain-lain. Studi kasus juga bersifat komprehensif artinya data yang dikumpulkan meliputi berbagai aspek kepribadian misalnya data tentang latar belakang sosial, latar belakang keluarga dan lain-lain[22].
j)         Tehnik Case Conference adalah pertemuan yang direncanakan untuk membahas keadaan dan masalah seseorang atau beberapa orang. Tujuannya adalah untuk lebih mengenal dan memahami anak yang mengalami kasus agar dapat diberikan pertolongan secara tepat. Yang ikut menghadiri dalam case conference adalah konselor, wali kelas, kepala sekolah, guru dan ahli lain yang dianggap perlu, kadang-kadang orang tua diundang jika dalam pembahasan kasus menuntut kerja sama dari orang tua[23].
C.2.  Tehnik Testing.
Tehnik tes tediri dari bermacam-macam tes, diantaranya :
1.     tes kemampuan
2.     tes prestasi
3.     tes bakat
4.     tes minat
5.     tes kepribadian.
Penggunaan tes bagi konselor berfungsi untuk :
1.     mengetahui kemampuan, minat, bakat, kepribadian individu/siswa sehingga dapat dipahami kekuatan dan kelemahannya yang nantinya menjadi bahan dalam pemberian bantuan.
2.     membantu memperkirakan kemungkinan-kemungkinan untuk menuju sukses sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan siswa.
3.     membantu siswa dalam mengambil keputusan dasar yang berkenaan dengan perencanaan pendidikan dan pekerjaan. Kesulitan-kesulitan siswa yang berkenaan dengan hal-hal tersebut dapat dipertimbangkan dengan hasil tes yang ada.
4.     menggunakan tes untuk diagnosis masalah siswa, maksudnya masalah-masalah siswa dikenali dan direncanakan untuk dapat ditetapkan dalam usaha perbaikannya.
5.     membantu mengevaluasi hasil-hasil bimbingan atau konseling[24].


[1] Kamus Umum Bahasa Indonesia, Hal. 237
[2] Prof. H.M. Arifin, M.ed. Materi Pokok Bimbingan dan Konseling, Hal. 196
[3] Kamus Umum Bahasa Indonesia, Hal. 1035
[4] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 66-68
[5] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 90
[6] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 96-98
[7]  Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 111
[8]  Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 133
[9] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 142
[10] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 147
[11] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK Di Sekolah,Hal. 169-180
[12] Prof. H.M. Arifin, M.ed. Materi Pokok Bimbingan dan Konseling, Hal. 197-204
[13] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 17
[14] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 19
[15] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 30
[16] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 47
[17] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 56-57
[18] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 59
[19] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 63-64
[20] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 67
[21] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 68
[22] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 79
[23] Drs. Mungin Eddy Wibowo, Tahnik Bimbingan dan Konseling jilid I, Hal. 85
[24] Prof. H.M. Arifin, M.ed. Materi Pokok Bimbingan dan Konseling, Hal. 94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar